Alexandra
“Nilai sesuatu terletak pada ketiadaannya”. Barangkali ini yang dirasakan Iwan ketika gadis yang dicintainya, Alexandra, mulai menjauh darinya. Tiba-tiba sms-sms Alexi -panggilan Alexandra- yang biasa menghiasi mailbox posnelnya hingga penuh, memudar. Sapaan-sapaan hangat “sudah makan, lom?” kini tak pernah lagi ada di ponselnya. Ia merasa seperti matahari yang tak memancarkan cahayanya, atau seekor singa jantan yang tak bertaring. Seketika itu juga, Iwan baru menyadari betapa ia sangat mencintai Alexi. Ia seperti terkekang dalam penjara kebisuan, hening kelam tak berbunyi. Tak cukup bara nyali untuk sekedar bertanya mengapa Alexi berubah karena di antara mereka berdua memang belum ada komitmen apa-apa.
Ia sadar ia telah berbuat kesalahan karena terlalu lancang dan vulgar kepada Alexi. Ya, di saat perkenalannya yang baru seumur jagung, ia sudah berani berbicara tentang hubungan masa depan dan soal keseriusan. Maklum, baru kali ini ia mencintai perempuan biasa. Lebih tepatnya lagi, “anak gaul”. Anak gaul, Man! Ya, Alexandra Alama Joya itu anak gaul abis. Dulu, biasanya ia mencintai jadis berjilbab panjang nan lebar yang ia dekati dengan blak-blakan soal keseriusan hubungan. Kini ia menyadari bahwa keseriusan hubungan bukanlah terletak pada apa yang diucapkan, tapi lebih pada apa yang dilakukan. Biarlah sang gadis yang seharusnya menilai apa ia serius atau tidak, melalui responsnya. “Mungkin itu yang membuat Alexi takut”, renungnya.
Seperti tak kuasa menahan gejolak rasa rindu yang memuncak tanpa balasan sms atau angkatan telepon dari Alexi, seketika itu juga meluaplah emosinya disambut aliran air mata yang mengalir menyisir lekukan pipinya yang bergaris tegas. Ruang-ruang spiritual tercipta dari titik fatamorgana.
“Tuhan…kata-Mu Engkau Maha Penyayang! Kata-Mu Engkau penolong orang yang berjuang di jalan-Mu! Aku hendak menyempurnakan separuh imanku. Benar, bukankah menikah itu adalah jalan-Mu? Jalan Rasul-Mu? Aku selalu menjaga kesetiaanku pada setiap gadis yang pernah aku cintai, bahkan sejak pdkt! Aku tak pernah mendua! Malah aku tak pernah menyeleweng saat dulu aku menjalin komitmen dengan gadis yang kucintai, apalagi sampai berbuat mesum! Aku sudah paham cinta itu apa! Aku sudah tahu semua ilmu tentang pernikahan! Tapi mengapa aku selalu gagal untuk sekedar mempunyai calon untuk menikah? Apa aku tak cukup siap untuk memulai hubungan serius sehingga masih perlu Kau uji!?!?!”
Entah tiba-tiba dia melihat seberkas cahaya putih terang-benderang menyilaukan segala sudut yang terdalam dalam ruang batinnya. Mungkin kalbunya berbicara.
“Wahai Iwan, sesungguhnya kau belum paham cinta itu apa”.
“Maksudmu?”
“Cinta itu artinya ‘menjadi’, bukan ‘memiliki’. Bukankah selama ini yang membuat kamu begitu kecewa terhadap Alexi yang tak membalas sms-sms-mu lagi atau tak pernah mengangkat teleponmu tak lain karena hasrat memilikimu terhadapnya terlalu besar?”
“Benar, tapi…”
“Cinta sejati terletak ketika seseorang menyambut kedatangannya dengan suka cita, namun di saat itu juga, ia rela untuk melepaskannya kapanpun cinta itu diambil darinya. Cinta sejati terletak pada keikhlasan hatinya untuk menerima dan melepaskannya sekaligus”
“Tap…tapi…”
“Cinta sesungguhnya menjadikan sang pecinta seorang yang lebih baik dari sebelumnya, orang yang welas-asih kepada semua makhluk Tuhan. Bahkan, seekor semut pun bisa merasakan keteduhan pancaran cinta orang itu ketika ia tak menginjaknya saat melewatinya. Semua itu dilakukannya dengan tulus. Karena ia tahu, bahwa ia perlahan-lahan menjadi orang yang lebih baik mulai detik itu juga saat cinta itu datang. Dan itu sudah cukup baginya.”
“Cinta suci bukanlah terletak pada obyek atau siapa yang dicintainya, namun terletak pasa isi cinta itu sendiri. Karena cinta adalah pancaran sifat Maha Penyayang Tuhan dan kepada-Nya semua akan kembali. Inilah kekudusan dari cinta!”
Iwan tertunduk lesu lemas tak berdaya. Ia menangis tersedu-sedu. Tapi sebuah senyuman tersungging di bibirnya. Senyuman kemenangan menertawakan perubahan hatinya yang paradoks. Kini ia rela untuk melepaskan Alexi untuk menggenggam cinta yang hakiki. Suatu keadaan hati yang lahir bukan karena kebuntuannya menemukan jalan, tapi karena keikhlasannya. Ia seperti terlahir kembali.
* * *
Esoknya, ia menerima kabar dari sahabatnya bahwa Alexi meninggal tiga hari yang lalu.
((Tebet, 5 Mei 2006, 23:48))
–dipersembahkan untuk (alm.) Eyang Pram
Thanks atas inspirasinya, Rani Isfandria –
