Salam,
Seorang kawan bertanya…
Apakah Yazid bin Mu’awiyah bisa disejajarkan dengan Fir’aun dan Namrud? Kenapa Yazid bin Mu’awiyah diambil sebagai contoh dalam membandingkan Soeharto, bukan dengan Fir’aun atau Raja Namrud, Raja-Raja Romawi yang juga bergelimang harta dari pajak rakyat yang mencekik? Apakah contoh yang diambil Muawiyah dan Yazid, ada hubungannya dengan Syiah?
Inilah jawaban saya…
Peristiwa 10 Muharram atau yang dikenal dengan “Tragedi Karbala” merupakan sebuah peristiwa keji yang sayangnya dilupakan oleh umat Islam karena diatributkan pada Syi’ah. Pun alasan Yazid dalam pembantaian al-Hussayn, cucunda Nabi Muhammad beserta keluarga Beliau, adalah ijtihad. Jika benar maka mendapat dua pahala, sedangkan jika salah mendapat satu pahala. Padahal terdapat Sunnah Nabi yang menyuruh kaumnya untuk mencintai ahlul bayt Nabi. Bukankah Allah dan Rasulnya meminta kita ber-shalawat dengan “Allahumma shalli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad”, yang mana ‘aali Muhammad’ berarti ‘keluarga Muhammad’? Dan bagaimana kedudukan tegas di Quran sendiri mengenai muslim yang membunuh muslim lain?
Inilah yang membedakan Yazid dengan Fir’aun dan Namrud. Fir’aun dan Namrud benar-benar secara nyata memilih jalan kekufuran dan kebathilan, walaupun menjelang sakaratul mawt-nya Fir’aun sendiri bertobat dan mengakui eksistensi Allah al-Haqq, tapi sudah kadung telat. Bagaimana dengan Yazid? Yazid bin Mu’awiyah membungkusnya dengan baju Islam. Inilah yang dalam Quran dilarang, wa laa talbisul haqq bil baathil, ‘janganlah memakaikan yang hak kepada yang batil’. Dan pengeksklusian orang-orang yang mencintai ahlul bayt Nabi tidak hanya berhenti sampai masa Yazid, namun hidup hingga saat ini.
Ambil satu contoh. Sebut saja pada zaman Imam madzaahib, yaitu Imam Syafi’i, Maliki, Hanafi dan Ahmad bin Hanbal alias Imam Hanbali. Kenapa yang dikenal di Islam hanya empat mazhab? Bukankah Imam Ja’far ash-Shadiq, yang merupakan salah satu Imam dalam Syi’ah, dikenal sebagai gurunya para Imam Madzhab karena kedalaman ilmunya? Bukankah Abu Hanifah alias Imam Hanafi yang berguru kepada Imam Ja’far, sangat mencintai Beliau? Sekali lagi, kenapa Imam Ja’far ash-Shadiq a.s. dipinggirkan dalam sejarah masa keemasan hukum Islam?
Ini barangkali pertanyaan buat kita. Siapkah kita menerima sebuah kebenaran sejarah dengan melepaskan segala atribut dangkal kita?
Saya tutup dengan salah satu petikan doa dalam Doa Yastasyiir, “Fa anaa asyhadu bi annaka anta Allah…wa laa mu’izza liman adzlalta” (Aku bersaksi bahwa Engkaulah Allah! Tiada yang dapat memuliakan orang yang telah Engkau hinakan!).
Salam,
Dwi
to the point, anda hrs lebih mendalami tarikh masa masa shabat samapi tabiut tabiin, sehingga anda tdk termakan propaganda yg memojokkan org2 sunni, wabil khusus khalifah yazid. baca lg sejarah islam, tentang tragedi karbala, siapa sesungguhnya dan apa sesungguhnya yg melatarbelakangi syahidnya husein ra. apakah benar2 pure nawaitu yazid, apakah benar yazid yg memerintahkan pemenggalan kepala cucunda nabi saw, apakah benar dan apakah benar sejarah yg anda pahami ttg tragedi karabala tsb, atau anda sdh termakan propaganda rafidhah?…mengapa ja’far shadiq tdk msk dlm kategori imam mazhab, krn anda blm memahami betul apakah beliau dan para ahlul bayt yg lain wala atau bahkan bara terhadap kultus yg dinisbahkan pada mereka&ahlul bayt yg lainnya..anda jg hrs mempelajari ushul fiqh, agar tau jawaban dr pertanyaan yg anda tanyakan..ala kulli hal, klo anda benar ingin tau kebenaran, cari kebenaran dr sumber kebenaran, bkn dr org org yg munafik gemar ber taqiyah..
@ugababa
(1) Soal Kebenaran
Kebenaran berdiri dengan sendirinya, tak ada hubungannya dengan perasaan komunal. Jika kebenaran disampaikan tp ada yang merasa terpojokkan, berarti yg salah bukan kebenarannya, tetapi sejauh mana komunitas itu menerima kebenaran. “Wa laa talbisul haqqa bil baathil”
Terkecuali kalau saya menggunakan bahasa yang kasar, sehingga Anda merasa terpojokkan. Berarti bukan permasalahan benar-salah, tetapi baik-buruk. Artinya, saya gagal menyampaikan dengan bil-hikmah wa bil maw’izhatil hasanah. Saya rasa bahasa yang saya gunakan masih wajar.
(2) Soal Kebenaran Sejarah
Baik sunni maupun syi’ah mengakui kebenaran sejarah tersebut. Syafi’i Maarif dari Muhammadiyah (Sunni) saja, yang sudah kita tidak ragukan lagi kapasitas intelektualnya dan kejujurannya, menuliskan, “sejarah peradaban Islam dibangun dengan darah”, merujuk pada peristiwa Karbala. Dalam memahami perbedaan madzhab antara Sunni-Syiah beserta versi historisnya, memang ada perbedaan antara Al-Azhar Kairo yang lebih terbuka dengan Arab Saudi (seperti Jaami’ah Ummul Qura, Al-Madinah, dsb) yang menutup ini –krn dipengaruhi madzhab negara Arab yang Wahhabi.
(3) Quran
Tolong cek di Quran, bagaimana kedudukan muslim yang memerangi muslim lainnya;
(4) Saran
Anda cari juga kebenaran dari sumber kebenaran, bukan dari orang yang gemar mengkafir-kafirkan Islam lain yang tidak sepaham. Untuk itu sebelumnya, Anda mesti mensucikan hati Anda untuk melakukan pencarian terhadap kebenaran. Sebagaimana ungkapan Imam Ghazali, “Ilmu adalah cahaya dalam hati”.
Salam