Sudahkah menonton film asal Negeri Sakura berjudul “Charisma”?
Film “Charisma” besutan Kiyoshi Kurosawa menurut saya layak ditonton bagi pecinta kebajikan
Film yang diperankan oleh Koji Yakusho tersebut sangat eksistensialis sekali! Buat orang awam seperti saya, termasuk “film berat” he3x…
Plot begitu lambat dan tokoh tak berlatar belakang ujug-ujug muncul dalam satu cerita tentang sebuah pohon besar yang dinamai “charisma”. Kesan membosankan memang.
Ada seseorang pemuda yang mati-matian mempertahankan keberadaan pohon tersebut yang konon mematikan pepohonan lainnya di sekitarnya karena alasan “survival of the fittest”. Namun ada juga ilmuwan yang ingin menghancurkan pohon yang aslinya berasal dari Amerika latin tsb karena demi menyelamatkan nyawa pohon-pohon lainnya. Kelompok ketiga, yaitu kelompok ranger yang ingin menumbangkan pohon tersebut demi mendapatkan uang. Bagaimana dengan tokoh utama? Dia tak berpihak pada mana pun: perspektif penonton.
Dinamika pun terjadi. Seorang pemuda tersebut pada akhirnya termotivasi mendapatkan uang setelah mengalami pergulatan psikologis yang panjang sejak pohon tersebut ditumbangkan oleh kelompok ranger. Sang ilmuwan mulai tergerak untuk mempertahankan hadirnya pohon sejenis Charisma yang baru muncul setelah pohon aslinya mati. Sementara kelompok ranger tersebut semakin rakus saja. Anehnya, justru lakon utamanya yang terakhir disematkan sebagai “charisma”. Dia belajar untuk menerima dunia ini apa adanya.
Nuansanya sangat metafor. Namun demikian, pesan yang saya tangkap dari film ini adalah mencoba mempertanyakan posisi dan peran individual dalam konteks masyarakat modern saat ini di tengah-tengah berbagai himpitan ideologi: individualisme (status quo), kapitalisme, atau sosialisme.
Dalam konteks geopolitik dan Indonesia, saat ini kita dihadapkan kepada beberapa pilihan: prokapitalisme seperti AS beserta Eropa Barat, prososialisme (atau sosialisme relijius) seperti koalisi antara Iran dengan Negara-negara Amerika Latin, atau “cuek bebek” saja prosatus quo menjadi negara yang mandiri dengan platform nasionalisme, sebuah pilihan yang utopis. Korsel dan Malaysia mempertahankan dirinya mati-matian dari persimpangan di antara dua ideologi besar tersebut.
Karena itu, “politik bebas-aktif” yang diusung Indonesia saya rasa sudah menemukan keusangannya. Dari opsi ideologi yang ada, kita hanya tinggal memilih di antara keduanya. Konsep politik luar negeri kita selayaknya diubah menjadi “politik berpihak-aktif”.
Dalam konteks domestik misalnya, masyarakat di Cicurug, Sukabumi, mengalami kesulitan air untuk minum dan mandi dengan kehadiran beberapa perusahaan air minum raksasa. Di samping itu, mereka pun hidup di bawah bayang-bayang kemiskinan. Padahal sebelum beberapa perusahaan air minum raksasa datang, air melimpah ruah di sana karena merupakan sumber mata air. Apa pilihan kita? Menjadi seperti pemuda tersebut, menghancurkannya demi kemaslahatan bersama seperti yang dilakukan ilmuwan, atau rakus seperti sekelompok ranger di atas. Pilihan “sekedar menonton saja” juga sah-sah saja.
Monggo, silakan memilih.