Catatan: Supratman, Sumber: Rakyat Merdeka (4/1)
BANYAK yang menunggu-nunggu sikap Obama terhadap perkembangan di Jalur Gaza. Tapi sesungguhnya, Obama telah menunjukkan segalanya.
Adalah Rahm Emanuel, seorang bekas Tentara Israel pada masa Perang Teluk yang menunjukkan bagaimana sikap Obama terhadap Israel dan Palestina. Sesaat setelah terpilih, Obama menunjuk Rahm sebagai Kepala Staf Gedung Putih.
Posisi ini sangat penting. Karena, kepala staf Gedung Putih merupakan elemen utama pengambil keputusan AS, selain direktur pribadi, penasihat hukum presiden, tim pers, penasihat keamanan nasional, pejabat Dewan Ekonomi Nasional, dan direktur anggaran.
Siapa Rahm? Dia Yauhdi garis keras. Karena itu, dia dijuluki “Rahmbo” (plesetan dari “Rambo”). Rahm pulalah yang mengantar Obama ke berbagai komunitas Yahudi saat berkampanye, termasuk saat bertemu AIPAC (American Israel Public Affairs Community). AIPAC adalah kelompok lobi Yahudi paling berpengaruh, termasuk mempengaruhi kebijakan luar negeri AS, khususnya berkaitan dengan Timur Tengah.
Selain “Rahmbo”, Obama juga mengangkat tokoh Yahudi lainnya masuk ke dalam lingkaran pemerintahannya: David Axelrod sebagai Kepala Strategi dan Dennis Ross sebagai Kepala Penasihat Isu-Isu Timur Tengah.
Jangankan kebijakan Timur Tengah, untuk hal-hal kecil sekali pun, Yahudi di AS yang junlahnya “hanya” lima juta orang, bisa sangat berpengaruh.
Oktober lalu, misalnya, aktris Halle Berry peraih Oscar dalam sebuah acara tivi, kepleset omong ketika tampil dalam acara obrolan ringan, “The Tonight Show”. Dalam acara itu secara bergurau, aktris kulit hitam itu mengatakan bahwa hidungnya tidak lebih besar dibanding hidung sepupunya yang Yahudi.
Pernyataan soal hidung itu sontak membuat kelompok Yahudi meradang. Barry diancam akan dimatikan kariernya, karena jaringan televisi dan film AS dikuasai Yahudi. Barry minta maaf, tapi diramal, kariernya bakal terhambat.
Memang sangat janggal kalau kita menyaksikan kebrutalan Israel di Gaza justru didukung AS. Tapi itulah kenyataannya.
Bukan hanya di AS, di Indonesia pun, Yahudi sudah masuk. Bahkan ada beberapa BUMN yang dijual di era pemerintahan sebelumnya, dicurigai dibeli oleh kelompok Yahudi.
Bulan lalu, sebuah pameran internasional di PRJ Kemayoran, Jakarta, juga dihebohkan oleh hadirnya sebuah perusahaan Yahudi. Bahkan, ada seorang pengamat yang mengatakan bahwa Yahudi tengah mengincar capres pada Pemilu 2009. Mengincar dalam artian bisa diajak kerjasama.
Kendati demikian, aksi simpati demo besar-besaran yang digelar PKS, Jumat (2/1), tetap dibutuhkan. Paling tidak, untuk memberi sinyal adanya dukungan terhadap Rakyat Palestina. Walaupun, ada juga yang menilai bahwa demo itu bermakna “sekali kayuh, dua tiga pulau terlampaui”. Karena, selain anti-Israel dan AS, demo itu juga dianggap membawa pesan mengenai besarnya kekuatan PKS pada Pemilu 2009 mendatang.***
Baca juga:



Palestina dengan polestina..
saya lebih suka poles tina…
@Rio
Hayo, tak kandani bojomu, lho