Kemarin bertepatan dengan hari wafatnya Sang Pahlawan pembela kebenaran dan keadilan di Padang Karbala. Yah, dialah Al-Hussein a.s. Tercatat 10 Muharram dalam Kalender Islam, atau dikenal dengan nama hari Asyura.
Paginya, ada suatu kejadian yang membuat mata saya terbelalak disertai dengan decakan kagum. Ada sebuah kerinduan terdalam yang tak dapat dapat dipenjara oleh untaian kata. Kala itu, saya naik bis PPD 213 jurusan Kampung Melayu-Grogol. Biasalah, rutinitas ke kantor. Bis sedikit sesak. Nampak beberapa penumpang berwajah tegang, entah apa yang dipikirkan mereka. Mungkin kerjaan kantor belum beres atau lupa mematikan kompor rumah. Brangkali juga jenuh dengan rutinitas. Yang lain ada yang kelihatan beraut wajah datar, entah karena benar-benar kosong atau tak mampu mencurahkan emosi ke urat-urat wajah. Ada juga yang ngantuk, pun terdengar suara musik samar-samar dari hp seorang penumpang. Namun sayangnya, hanya sedikit yang berwajah cerah (seperti saya, he3x…). Tak ada yang istimewa dari pemandangan keseharian itu.
“Maaf, Bu,” ungkap Si Kenek kepada seorang ibu sembari menggoyang-goyangkan uang yang berada di telapak tangannya.
Kemudian ia pun meminta uang kepada saya dengan permisi. Sangat sopan. Saya rogoh kantong saya lalu berikan 2.500 rupiah pas. Jawabnya, “Terimakasih, Pak,” sambil mengumbar senyum yang sangat bersahabat. Benar-benar sangat bersahabat, seperti laiknya pramusaji Jepang. Oh, rupanya Si Kenek memintanya dengan sopan ke semua penumpang. Itu espe’em alias standar pelayanan minimum dirinya, kalau kata orang-orang administrasi negara. Kehangatan lelaki berkulit sawo matang dan berkumis itu tak berhenti sampai di sini.
“Bapak Ibu, pegangan ya…pegangan,” kata lelaki bermuka sedikit kotak itu dengan teramat santun mencoba untuk mengingatkan para penumpang saat bis melaju dengan cepat…whuuzz.
Ya, hanya sedikit orang yang berwajah cerah. Termasuk Si Kenek itu. Kecerahan wajahnya bukanlah polesan belaka seperti umumnya customer service swasta yang melayani pelanggan. Itu sih seperti robot, terlalu mekanistis. Bukan pula seperti kecerahan wajah pemain sinetron saat harus beradegan bahagia, yang sejujurnya terasa artifisial. Dibuat-buat dan bersuhu minus alias dingin, brrr….. Tapi kecerahan Si Kenek ini lain. Murni terpancar dari cahaya di hatinya. Cahaya itu memahat ketulusan terdalam. Bahkan, sangat dalam. Saking dalamnya, seolah-olah semua penumpang menjadi cerah. Bercahaya semua.
Benar juga Kenek itu. Daripada menunggu datangnya cahaya, kenapa kita tidak menjadi lilin-lilin kecil? Lilin yang memancarkan cahaya ke sekitarnya. Wahai Al-Hussein, alangkah berharganya pengorbananmu.
Mentenk, 8 Januari 2008
