Feeds:
Posts
Comments

Sinagog Surabaya数ラバヤのKayoon通りにあるシナゴークに詰めかけた。ガザ地区をめぐったイスラエルとパレスチナの紛争によってすでに門が閉じられていたが、ここはそんなに危険なんだろうか?門を叩くだけでなく、中に入って見てみよう。

 花のモチーフのある古い18世紀末の建物、ラタンの椅子、彫刻されたチーク材のアルタール、ヘブライ語が書かれた壁飾り、金属の儀式用道具…。この国で生まれ育った文明の証人たちである。

 アメリカやオーストラリア、東メディテラニアに行かずとも、エキゾチックなシナゴークを見に誰もがこの場所に来ることができる。写真撮影をする観光客の絶えないジャカルタのパサール・バルにあるシーク教の寺院の様に、遠くシンガポールやインドまで行く必要はない。

 シナゴークの中に入ったら我々の信仰心が揺らぐのではないか、なんて心配する必要はない。例えばミナハサの祖先崇拝の遺物であるメンヒルを見学する人達だってそうだ。

 中央の部屋には15ほどの籐椅子がミンバルに向かって並んでいる。ミンバルは大きいので一度に3人が並ぶことができる。ミンバルは50センチの2本のろうそくに挟まれたアルタールの向かいにある。そして、そのミンバルとアルタールの間には、もう一か所、一人用のミンバルがある。アルタールの右には背の高い椅子があり、このシナゴークの管理人であるユスラン・サンバーさんが「これは割礼をする子供用の椅子だ」と教えてくれた。

 しかし、このシナゴークはもはや礼拝所としての機能を完全にははたしていない。集団礼拝が行われないからだ。見えている椅子の列は男性用のみで、隣のホールにあるはずの女性用の椅子はすでにもうなくなっている。現在そのホールには会議用の長い机と椅子の列があるだけだ。そして2本のながいろうそくとアルタールにあるはずの金の飾りももうない。

 儀式用の道具もチークのガラス戸の中で埃をかぶっている。というのも、その道具を使用するユダヤ教のラビは50年も前からいない。Kayoon通り4―5のBeth Hashemシナゴークはもうながいこと外国人の観光名所となっている。「彼らはイスラム教徒が大多数を占めるこの国でシナゴークが存在する事実を確かめに来るだけさ」とユスランさんは言う。

 それも、ここはインドネシアで残っている唯一のユダヤ教の礼拝所だからだ。イスラエルが建国するずっと前の1913年に建てられた。インドネシアだってまだ統一されていない時代。

 ユダヤ教の信者たちはオランダ人やインド、東メディテラニアの商人と共にこの国へやって来たと考えられる。数世紀の間インドネシアの各地でユダヤ教のLogeという集会所をもつようになる。その他にも彼らはいくつかの建築物を残しており、現在はマジャパヒト・ホテルと名前を変えたオランダ人ユダヤ教徒のルーカス・マーティンが建てたOranjeホテルがそうだ。

Sinagog Surabaya 彼らは前世紀の初めにJosepoh Erza Isaakが中心となってKayoonに一軒の家を買ったこともあった。しかし、インドネシアが独立し、ヨーロッパ人と共にユダヤ教徒たちも去って行った。

 スラバヤには十数のユダヤ教徒の家族が住んでいる。40年ほど前から集団礼拝をすることはできなくなっているが、そのうちの3家族が今でも土曜日やYom Kippur、Rosh Hashanahなどの日にこの場所に来て祈りをささげていく。世界の人々の聖地をめぐって最大のユダヤ教徒を有するイスラエルがパレスチナと争っていることが彼らにとって危機となっている。

 「現在このシナゴークは、スラバヤにユダヤ教徒がいた事実を知る証人として、歴史的遺産となっています。」とイスラム教徒であるユスランさんは言う。ちょうどジャカルタのシーク教寺院や、ミナハサの祖先崇拝の石像の様に。

 

Oleh: T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Anggota Badan Hisab Rukyat, Kementeria Agama RI

Rukyatul Hilal

Boleh jadi banyak orang tersinggung dengan ungkapan lugas bahwa kriteria hisab wujudul hilal itu usang dan jadi pemecah belah ummat. Tetapi saya tidak menemukan kata-kata yang lebih halus, tetapi tepat maknanya. Saya pun rela disebut “provokator” demi membangunkan kita semua bahwa “ada kerikil tajam” yang selalu mengganjal penyatuan ummat.

Mengapa wujudul hilal disebut usang? Ya, sebagai produk sains, suatu teori bisa saja usang karena digantikan oleh teori yang lebih baru, yang lebih canggih, dan lebih bermanfaat. Teori “geosentris” yang menganggap bumi sebagai pusat alam semesta sekarang dianggap usang, karena sudah banyak teori lain yang menjelaskan gerak benda-benda langit, antara lain teori gravitasi.

Ilmu hisab-rukyat (perhitungan dan pengamatan) dalam lingkup ilmu falak (terkait posisi dan gerak benda-benda langit) adalah ilmu multidisiplin yang digunakan untuk membantu pelaksanaan ibadah. Setidaknya ilmu hisab-rukyat merupakan gabungan syariah dan astronomi. Syariah membahas aspek dalilnya yang bersumber dari Al-Quran, Hadits, dan ijtihad ulama. Astronomi memformulasikan tafsiran dalil tersebut dalam rumusan matematis untuk digunakan dalam prakiraan waktu.

Rasulullah menyebut ummatnya “ummi” yang tidak pandai baca dan menghitung. Tetapi sesungguhnya pada zaman Rasul sudah diketahui bahwa rata-rata 1 bulan = 29,5 hari, sehingga ada hadits yang bermakna satu bulan kadang 29 dan kadang 30. Pengetahuan itu diperoleh dari pengalaman empirik pengamatan (rukyat) hilal.

Pada zaman sahabat dikembangkan sistem kalender dengan hisab (perhitungan astronomi) sederhan yang disebut hisab Urfi (periodik) yang jumlah hari tiap bulan berselang-seling 30 dan 29 hari.Bulan ganjil 30 hari dan bulan genap 29 hari. Maka Ramadhan semestinya selalu 30 hari, tetapi rukyat tetap dilaksanakan untuk mengoreksinya. Dengan perkembangan ilmu hisab/astronomi, hisab urfi mulai ditinggalkan, kecuali oleh kelompok-kelompok kecil yang tak tersentuh perkembangan ilmu hisab, seperti kelompok Naqsabandiyah di Sumatera Barat dan beberapa kelompok di wilayah lain (termasuk di tengah kota Bandung — walau tidak terliput media massa).

Dari hisab Urfi berkembang hisab Taqribi (pendekatan dengan asumsi sederhana). Misalnya tinggi bulan hanya dihitung berdasarkan umurnya. Kalau umurnya 8 jam, maka tingginya 8/2 = 4 derajat, karena secara rata-rata bulan menjauh dari matahari 12 derajat per 24 jam. Termasuk kesaksian hilal dulu bukan didasarkan pada pengukuran tinggi, tetapi hanya dihitung waktunya sejak cahaya “hilal” (bisa jadi bukan hilal) tampak sampai terbenamnya. Misalnya, cahaya tampak sekitar 10 menit, maka dihitung tingginya 10/4=2,5 derajat, karena terbenamnya “hilal” disebabkan oleh gerak rotasi bumi 360 derajat per 24 jam atau 1 derajat per 4 menit. Hisab urfi pun sudah mulai ditinggalkan, kecuali oleh beberapa kelompok kecil, antara lain kelompok pengamat di Cakung yang dikenal masih menggunakan hisab taqribi sebagai pemandu rukyatnya.

Dari hisan taqribi berkembang hisab hakiki (menghitung posisi bulan sebenarnya) dengan kriteria sederhana wujudul hilal (asal bulan positif di atas ufuk). Prinsipnya pun sederhana, cukup menghitung saat bulan dan matahari terbenam. Bila bulan lebih lambat terbenam, maka saat itulah dianggap wujud. Sampai tahap ini hisab dan rukyat sering berbeda keputusannya.Hisab wujudul hilal sering ebih dahulu daripada rukyat, karena memang tidak memperhitungkan faktor atmosfer. Masyarakat awam (setidaknya di Cirebon, tempat masa kecil saya tahun 1970-an) sudah maklum menyebut Muhammadiyah yang sering puasa atau berhari raya duluan, karena merekalah yang mengamalkan hisab wujudul hilal.

Mengapa kriteria wujudul hilal sebagai lompatan pertama hisab hakiki? Dalam sains dikenal penyederhanaan dalam model perhitungan. Untuk menghitung secara hakiki posisi bulan dan matahari bukan perkara mudah pada tahun 1970-an. Ahli hisab harus menghitung secara manual dengan berlembar-lembar kertas, kadang-kadang berhari-hari. Satu problem biasanya dihitung minimal oleh 2 orang. Kalau terjadi perbedaan, kedua orang itu harus saling mengoreksi. Itu tidak mudah. Tahun 1980-an kalkulator menjadi alat bantu utama. Kemudian tahun 1990-an komputer semakin mempermudah perhitungan.

Lalu berkembang hisab hakiki dengan kriteria imkan rukyat (kemungkian bisa dirukyat) yang memadukan hisab dan rukyat, sehingga antara kelender dan hasil hisab diupayakan sama. Itulah konsep penyatuan kalender Islam. Berdasarkan data rukyat di Indonesia sejak tahun 1960-an, ahli hisab di Indonesia pada awal 1990-an memformulasikan kriteria imkan rukyat: (1) ketinggian minimum 2 derajat, (2) jarak bulan-matahari minimum 3 derajat, dan (3) umur hilal minimum 8 jam. Kriteria tersebut kemudian diterima di tingkat regional daam forum MABIMS (Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura). Ormas-ormas Islam dalam kelompok Temu Kerja Badan Hisab Rukyat menyepakati penggunaan kriteria tersebut daam pembuatan kalender hijriyah di Indonesia, kecuali Muhammadiyah.

Wakil Muhammadiyah beralasan tinggi hilal 2 derajat tidak ilmiah. Mengapa tinggi hilal 2 derajat dianggap tidak ilmiah, tetapi tetap bertahan wujudul hilal yang artinya tinggi hilal minimum 0 derajat? Saya tidak tahu alasan penolakan yang sebenarnya. Tetapi memang hisab dengan kriteria imkan rukyat akan lebih rumit daripada hisab wujudul hilal. Tetapi, dalam perkembangan pemikiran astronomi, hisab  imkan rukyat dianggap lebih modern daripada hisab wujudul hilal. Faktor atmosfer yang menghamburkan cahaya matahari diperhitungkan. Hilal yang sangat rendah dan sangat tipis tidak mungkin mengalahkan cahaya senja di ufuk dan cahaya di sekitar matahari. Itulah sebabnya perlu adanya batas minimum ketinggian bulan dan jarak bulan-matahari.

Kriteria imkan rukyat terus berkembang. IICP (International Islamic Calendar Program) di Malaysia berupaya mengembangkan kriteria astronomis yang kini dikenal sebagai kriteria Ilyas.  LAPAN pun berdasarkan data rukyat di Indonesia 1962-1996 mengembangkan revisi kriteria imkan rukyat MABIMS, yang dikenal sebagai kriteria LAPAN (tahun 2000). Odeh dengan ICOP (International Crescent Observation Program) dengan menggunakan data internasional yang lebih banyak mengembangkan kriteria yang kini dikenal sebagai kriteria Odeh. Kelompok astronom amatir RHI (Rukyatul Hilal Indonesia) yang mengkompilasi data rukyat di Indonesia dan Australia juga menyusun kriteria imkan rukyat RHI. LAPAN (2010) juga mengusulkan kriteria baru berdasarkan data rukyat nasional dan internasional yang diberi nama Kriteria Hisab-Rukyat Indonesia.

Kriteria imkan rukyat yang inilah yang dijadikan dasar penyatuan kalender hijriyah. Dengan kalender berdasarkan hisab imkan rukyat, hasil hisab dalam bentuk kalender diharapkan akan sama dengan hasil hisab. Kalau masih terjadi perbedaan, penyelesaiannya dalam forum sidang itsbat. Lalu yang berbeda dari kriteria tersebut nanti bisa dijadikan dasar untuk merevisi kriteria imkan rukyat.  Memang begitulah kriteria imkan rukyat adalah kriteria dinamis yang bisa terus disempurnakan. Kuncinya, kriteria tersebut harus disepakati oleh semua pemangku kepentingan, terutama ormas-ormas Islam, MUI, dan Pemerintah.

Dari kronologis perkembangan pemikiran hisab seperti itu terlihat posisi hisab wujudul hilal sudah usang dan harus diperbarui. Hisab wujudul hilal pun bisa jadi pemecah beah ummat, karena hilal dengan ketinggian yang sangat rendah tidak mungkin teramati. Keputusan pengamal hisab wujudul hilal pasti akan berbeda dengan keputusan pengamal rukyat. Walau sebagian orang menganggapnya wajar saja terjadinya perbedaan, tetapi kebanyakan orang akan merasakan ketidaknyamanan. Perdebatan akan selalu muncul, yang tidak mungkin diredam sekadar imbauan “saling menghormati”.

Lebih dari sekadar masalah ketidaknyamanan (penghalusan dari keresahan) di masyarakat dan kenyataan ummat terpecah dalam beribadah massal (Ramadhan dan hari raya), dengan adanya perbedaan itu kita tidak akan pernah punya kalenedr hijriyah yang tunggal dan mapan. Dengan perbedaan kriteria yang diterapkan oleh ormas-ormas Islam, kalender hijriyah dikerdilkan hanya menjadi kalender ormas. Kalender Muhammadiyah akan menjadi kalender yang berbeda sendiri dari kalender ormas-ormas Islam lainnya di Indonesia. Walau kalender Ummul Quro Saudi Arabia sama masih menggunakan kriteria wujudul hilal, belum tentu wujudul hilal di Indonesia sama dengan di Arab Saudi.

Kalau ukhuwah yang dikedepankan, “mengalah demi ummat” yang dilakukan Muhammadiyah sangat besar dampaknya. Dengan meninggakan kriteria wujudul hilal yang usang, menuju kriteria yang lebih baik, kriteria imkan rukyat, insya-allah potensi perbedaan dapat dihilangkan. Toh, kriteria imkan rukyat pun adalah kriteria hisab, namun bisa diterapkan untuk mengkonfirmasi rukyat. Dengan kriteria imkan rukyat, kita pun bisa menghisab kalender sekian puluh atau sekian ratus tahun ke depan, selama kriterianya tidak diubah. Kriteria imkan rukyat juga menghilangkan perdebatan soal perbedaan hisab dan rukyat, karena kedua metode itu menjadi setara dan saling mengkonfirmasi.

Sumber: http://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/09/05/wujudul-hilal-yang-usang-dan-jadi-pemecah-belah-ummat-harus-diperbarui/

Banyak penyerang Islam mengatakan bahwa Nabi Muhammad SAWW adalah seorang pedophile karena menikahi Siti Aisyah ra yang masih anak-anak, yang kala itu berusia 9 tahun. Coba search di google dengan keyword “Muhammad Aisha Marriage”. Yang keluar kebanyakan adalah hujatan terhadap pribadi yang suci dan berhati lembut ini.

Saya pribadi pernah mendengar ini langsung di Swedia pada tahun 2005. Kala itu, ada seorang pastur dari kelompok Kristen Minoritas yang berkoar-koar tentang hal ini di media. Untungnya, muslim di sana memilih jalan dialog alih-alih menggunakan kekerasan. Di sisi lain, pastur dari kelompok Kristen mayoritas di sana mengatakan bahwa yang membuat pernyataan bukan mereka, melainkan dari kelompok Kristen minoritas. Saya sendiri kurang tahu aliran yang mana. Namun, sungguh sebuah jalan penyelesaian yang sangat teduh baik dari kaum muslimin maupun kelompok Kristen mayoritas di sana.

Bagi yang belum mengetahui apa itu pedofil, pedofil adalah perilaku menyimpang di mana seorang dewasa memiliki ketertarikan seksual terhadap anak-anak.

Nah, benarkah Nabi Muhammad SAWW menikahinya pada usia anak-anak? Yuk, kita lihat.

I. Argumentasi Historis

Pertama, sebagaimana diriwayatkan oleh hadits Bukhari, dilaporkan bahwa Aisyah mengeluarkan pernyataan “aku masih seorang anak kecil” pada saat Surat al-Qamar, surat yang ke-54, turun.  Sementara Surat al-Qamar turun pada saat sembilan tahun sebelum hijrah, yaitu sebelum hijrahnnya Rasulullah SAWW beserta pengikutnya dari Mekkah ke Yastrib (Madinah).

Sejarah mencatat, Nabi Muhammad SAWW menikahi Aisyah satu tahun setelah hijrah. Ini berarti, Aisyah dinikahi pada usia yang sudah layak. Mengapa demikian? Kita asumsikan pernyataan Aisyah bahwa dirinya masih anak kecil itu diucapkan pada saat dirinya berusia antara lima sampai sembilan tahun. Dirinya menikah dengan Nabi Muhammad SAWW 10 tahun kemudian, yaitu sembilan tahun sebelum hijrah ditambah satu tahun sesudah hijrah. Ini artinya, saat itu Aisyah berusia antara 15 sampai 19 tahun.

Kedua, diberitakan dalam beberapa hadits bahwa Aisyah menemani Nabi Muhammad SAWW dalam perang Badar dan Uhud, yang dari sisi etnografi Arab merupakan sebuah kelaziman bagi perempuan ikut laki-laki berperang untuk mengobati mereka yang terluka. Perang Badar terjadi dua tahun setelah hijrah, sedangkan Perang Uhud terjadi tiga tahun setelah hijrah.

Dalam sejarah Arab, ada kebiasaan yang tegas kala itu bahwa perempuan yang boleh ikut membantu di medan perang adalah mereka yang berusia paling sedikit 15 tahun. Katakanlah kala itu usia Aisyah memenuhi usia minimum tersebut, sehingga usia saat dirinya ikut ke Perang Badar dan Uhud secara berturut-turut adalah 17 dan 18 tahun.

Ketiga, disebutkan bahwa kakak Aisyah, yaitu Asma, meninggal pada usia 100 tahun pada 73 tahun setelah hijrah. Jadi, Asma masih berusia 27 tahun saat hijrah dan 28 tahun saat Aisyah menikah dengan Nabi Muhammad SAWW. Yang perlu digarisbawahi adalah Asma sendiri lebih tua 10 tahun daripada Aisyah. Dengan demikian, usia Aisyah pada waktu menikah adalah 18 tahun.

Keempat, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Hisyam, Aisyah memeluk Islam beberapa tahun sebelum Umar bin Khattab ra. Umar bin Khattab kira-kira menjadi muslim tujuh tahun sebelum hijrah atau delapan tahun sebelum Aisyah menikah. Sekarang kita asumsikan sekurang-kurangnya Aisyah berusia enam tahun saat Umar bin Khattab mengucapkan dua kalimat syahadat. Berarti Aisyah menikah saat dirinya berusia sekurang-kurangnya14 tahun.

Kelima, berdasarkan informasi dari Ibnu Hajar, Fathimah az-Zahrah as lima tahun lebih tua daripada Aisyah.  Fathimah dilahirkan lima tahun sebelum Baginda Muhammad SAWW menerima wahyu yang pertama. Ini berarti, Fathimah dilahirkan setidaknya 19 tahun sebelum hijrah atau 20 tahun pada saat pernikahan Aisyah. Sehingga, kala itu usia Aisyah paling tidak 15 tahun.

Keenam, sejarawan Thabari menyebutkan bahwa Abu Bakar Shiddiq ra memiliki empat orang anak, termasuk Aisyah, yang kesemuanya lahir pada masa pra-Islam, yaitu masa sebelum Nabi Muhammad SAWW menerima wahyu kali pertama. Nabi Muhammad SAWW hijrah kira-kira 13 tahun setelah menjadi Nabi. Ini berarti, usia Aisyah saat menikah paling sedikit 14 tahun.

Kesimpulan yang dapat ditarik adalah, Aisyah dinikahi oleh Nabi Muhammad SAWW saat dirinya berusia antara 14-19 tahun.

II. Argumentasi Hadits

Hadits yang mengemukakan Aisyah dinikahi Nabi Muhammad SAWW saat berusia sembilan tahun satu-satunya hanya berasal dari Hisyam bin Urwah, tidak ada riwayat lain yang mencatat demikian. Secara umum, Ya’qub bin Shaibah dan Malik bin Annas menolak hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Hisyam bin Urwah yang didapatkan melalui orang-orang di Irak. Ya’qub menambahkan, karena itu hadits yang berasal dari Hisyam bin Urwah tidak dapat diandalkan.  Mizaanul I’tidal menyatakan ingatan Hisyam bin Urwah pada saat tua sangat buruk.

Jadi, sejarah yang menyatakan bahwa Aisyah menikah saat berusia sembilan tahun tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya dan menodai pribadi agung Rasulullah SAWW. Beberapa cendekiawan muslim di tempat saya, yaitu di Islamisk Kultur Centrum i Lund di Swedia, seperti Syeikh Ali dari Al-Azhar Kairo, berpendapat Aisyah tidak dinikahi saat masih anak-anak.

Tulisan ini merupakan rangkuman dari perkuliahan yang diberikan oleh Dr. Luhut M. P. Pangaribuan, S.H., LL.M. (advokat) dan Arbijoto, S.H., M.H. (mantan hakim agung) dalam Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA) yang diselenggarakan oleh Pusat Penunjang Profesi Hukum (P3H) Jakarta dari 12 Juli hingga 23 Agustus 2010. Catatan tambahan juga “peramu” lengkapi dengan catatan hukum acara pidana di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, dan buku-buku antara lain yang ditulis oleh Andi Hamzah, Luhut M.P. Pangaribuan, dan Yahya Harahap. Tulisan ini masih belum sistematis dan akan disempurnakan lagi. Semoga bisa membantu bagi masyarakat umum yang masih awam, khususnya bagi para pencari, pembela, maupun pemberita keadilan!

*                    *                    *

Hukum acara pidana atau hukum pidana formal adalah hukum yang melaksanakan dan menegakkan hukum pidana materil. Hukum acara pidana dibagi dua, yaitu:

  1. hukum acara pidana formal, yang terdiri atas investigasi dan interogasi. Hukum acara pidana formil mengatur tentang tindakan aparat hukum dalam hal penyelidikan dan penyidikan sebelum perkara diajukan ke pengadilan (pra-ajudikasi);
  2. hukum acara pidana materil, yaitu hukum acara pidana yang mengatur perihal pembuktian di pengadilan, seperti alat bukti, teori pembuktian, kekuatan pembuktian, beban pembuktian, dan lain-lain.

Dilihat dari tahapannya, hukum acara pidana dibagi menjadi:

  1. pra-ajudikasi: tindakan aparat hukum untuk melakukan penyelidikan dan penyidikan sebelum perkara diajukan ke pengadilan. Tujuan dari tahap ini adalah Berita Acara Pemeriksaan (BAP);
  2. ajudikasi: pemeriksaan di pengadilan, yaitu dari penuntutan sampai putusan;
  3. pasca-ajudikasi: tahap setelah putusan pidana dijatuhkan oleh hakim, termasuk upaya hukum biasa dan luar biasa.

Sementara menurut mantan hakim agung Arbijoto, hukum pidana terdiri atas dua macam, yaitu:

  1. hukum pidana formil: aturan pidana yang memuat unsur-unsur perbuatan pidana, yaitu unsur kesengajaan (ada tujuan) dan unsur melawan hukum (melawan hak), misalnya pencurian; dan
  2. hukum pidana materil: aturan pidana yang menitikberatkan pada akibat yang ditimbulkan dari tindak pidana tersebut, seperti pembunuhan.

I. TAHAP PRA-AJUDIKASI

Pada tahap ini, orang bebas bisa menjadi saksi atau tersangka. Bisa menjadi saksi apabila orang bebas tersebut:

  • melihat suatu tindak pidana,
  • mendengar suatu tindak pidana, dan/atau
  • mengalami suatu tindak pidana.

Bolehkah saksi menjadi tersangka? Biasanya penyidik mengatur strategi ini. Namun secara teori hukum, ini melanggar asas non-self incrimination, artinya memberikan kesaksian di pengadilan atau dalam tahap penyidikan tidak bisa menjadikan saksi tersebut sebagai tersangka atau terdakwa.

Apakah saksi wajib disumpah? Saksi boleh disumpah untuk memberikan keterangan di penyidikan, tetapi wajib disumpah pada saat di persidangan.

Apakah tersangka boleh tidak memberikan keterangan pada saat penyidikan? Boleh. Dalam common law ini disebut dengan right to remain silence.

Apakah hakim ketua sidang wajib mendengar keterangan saksi yang sudah ada di Berita Acara Pemeriksaan (BAP) yang diminta oleh terdakwa, advokat terdakwa, atau Jaksa Penuntut Umum (JPU)? Wajib berdasarkan Pasal 160 ayat (1c) KUHAP. Namun pada praktiknya, berdasarkan SEMA No. 2 Tahun 1985, hakim ketua sidang bisa menyeleksi saksi-saksi mana saja yang bisa didengar keterangannya.

Apakah perbedaan antara penyelidikan dengan penyidikan? Seringkali kita tidak bisa membedakan antara keduanya. Namun Pasal 1 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) memberikan definisinya sebagai berikut:

Penyelidikan adalah serangkaian tindakan penyelidik untuk mencari dan menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana guna menentukan dapat atau tidaknya dilakukan penyidikan menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini.

Sementara…

Penyidikan adalah serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tentang tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya.

Dari pengertian ini dan peraturan perundang-undangan yang lain, dapat disimpulkan bahwa:

  1. Penyelidikan adalah bagian dari penyidikan;
  2. Penyelidikan bertujuan untuk mengidentifikasi suatu peristiwa hukum: bisa disidik atau tidak;
  3. Penyidikan bertujuan untuk membuat terang perbuatan pidana dan menemukan tersangka (walaupun tak harus menemukan tersangkanya);
  4. Penyelidikan hanya dilakukan oleh polisi saja, sementara penyidikan dilaku kan oleh polisi, Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS),  Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnasham) untuk kejahatan HAM, Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (KPK) untuk perbuatan pidana korupsi tertentu, jaksa untuk perbuatan pidana ekonomi dan korupsi (pidana khusus), dan lain-lain yang ditunjuk oleh peraturan perundang-undangan;
  5. Penyelidikan dapat dilakukan oleh semua polisi, sementara penyidikan hanya dapat dilakukan oleh polisi yang berpangkat pembantu letnan satu (peltu) atau yang sekarang adalah inspektur polisi satu (iptu) dan PPNS minimal golongan IIB.

Orang yang diduga melakukan tindak pidana atau tersangka dapat dikenakan upaya paksa. Macam-macam upaya paksa adalah:

  1. penangkapan;
  2. penahanan: (1) rumah tahanan negara [rutan] atau di lembaga permasyarakatan [LP/lapas], (2) penahanan rumah, dan (3) penahanan kota;
  3. penggeledahan: (1) penggeledahan badan dan (2) penggeledahan rumah — jadi seandainya ada penggeledahan kantor sesungguhnya aneh🙂;
  4. penyitaan: (1) barang bukti dan (2) bukan barang bukti [dapat di-praperadilan-kan];
  5. pemeriksaan surat;
  6. wajib lapor polisi.

Apa saja hak-hak dari tersangka?

  1.  Segera mendapatkan pemeriksaan oleh penyidik;
  2. Perkaranya segera diajukan ke pengadilan;
  3. Diberitahu secara jelas dengan bahasa yang dimengertinya tentang apa yang disangkakan kepadanya pada waktu penyidikan dimulai;
  4. Memberikan keterangan secara bebas kepada penyidik tanpa adanya tekanan;
  5. Mendapatkan bantuan hukum dari penasihat hukum selama dalam kurun waktu dan pada setiap tingkat pemeriksaan;
  6. Memilih sendiri penasihat hukumnya;
  7. Kewajiban pejabat untuk menunjuk penasihat hukumnya pada setiap tingkat pemeriksaan;
  8. Mendapatkan bantuan hukum cuma-cuma (probono);
  9. Berhak menghubungi penasihat hukumnya selama ditahan; dan
  10. Hak menuntut ganti kerugian dan rehabilitasi.

 

A. Penangkapan

Penangkapan, menurut KUHAP, adalah suatu tindakan penyidik berupa pengekangan sementara waktu kebebasan tersangka atau terdakwa apabila terdapat cukup bukti guna kepentingan penyidikan atau penuntutan dan/atau peradilan dalam hal serta menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini. Jika disederhanakan, penangkapan adalah pengekangan sementara waktu tersangka atau terdakwa.

Siapa saja yang berwenang untuk menangkap? Polisi, jaksa dan PPNS dalam kapasitasnya sebagai penyidik, petugas bea cukai terhadap pelaku penyelundupan, dan lain-lain yang ditentukan oleh peraturan perundang-undangan.

Apakah penangkapan memerlukan Surat Perintah Penangkapan? Ya, kecuali jika pelaku perbuatan pidana tertangkap tangan sedang melakukan kejahatan.

Apa saja isi Surat Perintah Penangkapan? Isi Surat Perintah Penangkapan secara garis besar adalah:

  • identitas tersangka;
  • alasan penangkapan;
  • uraian singkat tentang kejahatan yang dipersangkakan; dan
  • tempat pemeriksaan dilakukan.

Sementara lamanya waktu penangkapan adalah:

  • 1×24 jam secara umum; dan
  • 7×24 jam untuk tindak pidana terorisme.

Hal-hal penting yang perlu diperhatikan dalam penangkapan:

  • penangkapan tidak dilakukan terhadap tindak pidana pelanggaran (seperti melanggar lalu lintas);
  • status orang yang ditangkap bukan tersangka;
  • praperadilan adalah upaya hukum bagi penangkapan yang tidak sah, misalnya kesalahan identitas.

B. Penahanan

Menurut KUHAP, penahanan adalah upaya paksa menempatkan tersangka/terdakwa di suatu tempat yang telah ditentukan karena alasan dan dengan cara tertentu.

Apakah syarat-syarat dari penahanan? Ada dua syarat yang harus dipenuhi, yaitu (1) syarat obyektif [yuridis] dan (2) syarat subyektif [necessitas]. Untuk syarat obyektif, penjabarannya adalah:

  • diancam dengan pidana penjara 5 tahun atau lebih; atau
  • diancam dengan pidana penjara kurang dari 5 tahun untuk tindak pidana tertentu, seperti perbuatan yang tidak menyenangkan, percobaan, desersi, penganiayaan dengan rencana, dan lain-lain [lihat KUHAP pasal 21 ayat (4c)]

Sementara untuk syarat subyektif penahanan, sebenarnya lebih kepada kekhawatiran dari penyidik saja. Kekhawatiran apa saja? Yaitu khawatir tersangka akan:

  • melarikan diri;
  • menghilangkan barang bukti; atau
  • mengulangi tindak pidana.

Lamanya total maksimum penahanan adalah:

  1. 120 hari untuk perbuatan pidana yang diancam dengan pidana penjara 9 tahun atau lebih (20 hari + 40 hari + 30 hari + 30 hari);
  2. 60 hari untuk perbuatan pidana yang diancam dengan pidana penjara kurang dari 9 tahun.

Adapun masa waktu penahanan untuk semua tahap, termasuk tahap ajudikasi dan pasca-ajudikasi, penjabarannya adalah sebagai berikut:

  1. Penahanan polisi atau pejabat lain: 20 hari. Dapat diperpanjang maksimum 40 hari dengan izin dari Jaksa Penuntut Umum (JPU). Sehingga totalnya 60 hari;
  2. Penahanan atas perintah JPU: 20 hari. Dapat diperpanjang maksimum 30 hari dengan izin Ketua Pengadilan Negeri (PN). Sehingga waktu maksimumnya 50 hari;
  3. Penahanan atas perintah Hakim PN: 30 hari. Dapat diperpanjang maksimum 60 hari dengan izin Ketua PN. Jadi totalnya 90 hari.
  4. Penahanan atas perintah Hakim Pengadilan Tinggi (PT): 30 hari. Dapat diperpanjang menjadi maksimum 90 hari dengan izin Ketua PT. Sehingga maksimumnya adalah 90 hari;
  5. Penahanan atas perintah Mahkamah Agung (MA): 50 hari. Dapat diperpanjang maksimum 60 hari. Sehingga totalnya 110 hari. Perlu dicatat bahwa tujuan penahanan adalah untuk pemeriksaan kasasi.

Upaya hukum dari penahanan adalah:

  • Surat Permohonan Penangguhan Penahanan, yaitu permohonan agar penahanan tersangka ditangguhkan dengan jaminan orang (keluarga), jaminan uang (dalam praktik minimal 50 juta rupiah), atau jaminan orang dengan kompensasi uang;
  • Surat Permohonan Pengalihan Penahanan, yaitu permohonan agar penahanan tersangka dialihkan dari penahanan rutan menjadi penahanan rumah atau penahanan kota. Dalam praktik, biasanya keluarga/advokat tersangka mengajukan Surat Permohonan Penangguhan/Pengalihan Penahanan;
  • Praperadilan, yang bersifat post factum, artinya praperadilan dapat dilakukan apabila sudah terjadi penahanan; atau
  • Keberatan, yang diajukan oleh tersangka, keluarga, atau advokat dari tersangka.

Apabila penangguhan/pengalihan penahanan dikabulkan oleh penyidik, biasanya tersangka akan dikenai wajib lapor. Contohnya, wajib lapor dua kali dalam seminggu setiap Senin dan Kamis di Resmob Bareskrim Mabes Polri.

Apakah hakim dapat memerintahkan terdakwa untuk ditahan setelah diputus bersalah? Ya, hakim dapat memerintahkannya berdasarkan KUHAP Pasal 29 ayat (2a). Bahkan, wajib untuk tindak pidana korupsi.

Namun demikian, hal-hal penting yang perlu diperhatikan dalam penahanan adalah sebagai berikut:

  • penahanan konsepnya hanya merupakan accessoir (tambahan), artinya dilakukan untuk keperluan pemeriksaan. Jadi jika ada seseorang yang ditahan 60 hari, namun hanya diperiksa 2 hari, artinya ada kesalahan di sini;
  • Apabila tersangka/terdakwa sudah melewati masa penahanan maksimum (termasuk perpanjangan), namun pemeriksaan belum selesai, maka demi hukum orang tersebut harus dikeluarkan dari tahanan.

Terkait dengan masa penahanan, berapa pengurangan dari (hukuman) pidana penjara yang dijatuhkan?

  • penahanan kota -> 1/5 dari jumlah lamanya waktu penahanan;
  • penahanan rumah -> 1/3 dari jumlah lamanya waktu penahanan;
  • penahanan rutan -> dikurangkan sesuai dengan jumlah lamanya waktu penahanan (penuh);
  • pembantaran -> apabila tersangka yang seharusnya ditahan, tetapi dirawat di rumah sakit, maka tidak dihitung sebagai masa penahanan, sehingga tidak dikurangkan sama sekali

C. Alat Bukti

Alat bukti dalam hukum acara pidana, yaitu:

  1. keterangan saksi;
  2. keterangan ahli;
  3. surat;
  4. petunjuk, yang diperoleh dari keterangan saksi, keterangan terdakwa, dan surat;
  5. keterangan terdakwa; dan
  6. resume, yaitu ikhtisar dan kesimpulan dari BAP.

Apakah alat bukti (evidence) sama dengan barang bukti (physical evidence)? Tidak. Barang bukti adalah:

  1. barang yang digunakan untuk melakukan perbuatan pidana;
  2. barang hasil dari perbuatan pidana; dan
  3. barang yang berhubungan dengan perbuatan pidana.

D. Penyerahan Berkas Perkara

Setelah penyidikan dilakukan, penyidik menyerahkan berkas perkara kepada jaksa. Pertanyaannya, diserahkan kepada jaksa yang mana? Berkas perkara diserahkan kepada jaksa peneliti, bukan JPU. Berdasarkan Keputusan Jaksa Agung No. 518/A/JA/11/2001 (1 November 2001) tentang Perubahan Keputusan Jaksa Agung No. 132/JA/11/1994 tentang Administrasi Perkara Tindak Pidana, hasil dari pemeriksaan jaksa peneliti adalah sebagai berikut:

  1. P-21: pernyataan berkas perkara sudah lengkap;
  2. P-18: pernyataan berkas perkara belum lengkap; dan
  3. P-19: lampiran dari P-18 berisi petunjuk apa-apa saja yang harus dilengkapi, misalnya soal rekonstruksi, soal saksi ahli, dan lain-lain.

Adapun P-16 merupakan tanggapan jaksa peneliti setelah penyidik menerbitkan Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP). P-16 merupakan Surat Perintah Penunjukkan JPU untuk mengikuti perkembangan penyidikan perkara tindak pidana.

Pada perkara korupsi, baiknya JPU memaksimalkan pemeriksaan tambahan/penyidikan lanjutan agar berkas perkara tidak bolak-balik dari tangan penyidik ke JPU dan sebaliknya.

E. Praperadilan (Habeas Corpus)

Praperadilan merupakan sebuah lembaga yang bertujuan untuk mengawasi penggunaan upaya-upaya paksa (dwang midelen) yang dilakukan oleh institusi kepolisian dan kejaksaan sebelum pemeriksaan pokok perkara.

Di Indonesia. yang dapat di-praperadilan-kan bukan menyangkut substansi atau materil, melainkan hanya dari sisi administratif belaka (sayangnya!), misalnya keluarga tersangka tidak diberikan tembusan surat penahanan, bukan untuk menguji apakah sudah ada bukti permulaan yang cukup (probable cause) untuk menjadikan seseorang sebagai tersangka serta menahannya.

Apa saja yang dapat di-praperadilan-kan? Pada pokoknya ada lima, yaitu:

  • sah atau tidaknya penangkapan;
  • sah atau tidaknya penahanan;
  • sah atau tidaknya penghentian penyidikan;
  • sah atau tidaknya penghentian penuntutan; atau
  • sah atau tidaknya benda yang disita, jika benda tersebut tidak masuk ke dalam pembuktian.

Adapun alasan-alasan mengenai sah atau tidaknya penangkapan atau penahanan adalah:

  • penangkapan atau penahanan tanpa alasan yang didasarkan pada undang-undang, misalnya polisi menahan tersangka tanpa menunjukkan surat tugas atau surat penahanan;
  • keliru mengenai orang; atau
  • keliru mengenai hukumnya.

Sementara yang dapat dituntut dari praperadilan terhadap sah atau tidaknya penangkapan atau penahanan adalah:

  • ganti kerugian yang dimintakan oleh tersangka, ahli warisnya, keluarganya, kuasanya, atau pihak ketiga yang berkepentingan; dan/atau
  • rehabilitasi yang diminta oleh tersangka atau pihak ketiga yang berkepentingan, seperti rehabilitasi nama di koran nasional.

Berapa jumlah ganti kerugian yang dapat dimintakan? Besarnya adalah 5 ribu sampai 3 juta rupiah.

Adakah pengecualian penghentian penyidikan atau penuntutan yang tidak dapat di-praperadilan-kan? Ada, yaitu penghentian penuntutan demi kepentingan umum (deponeering) yang dilakukan oleh jaksa. Sementara untuk penghentian penyidikan, tidak ada pengecualiannya.

Siapa saja yang dapat mem-praperadilan-kan penghentian penyidikan? Yang dapat melakukannya, yaitu:

  • jaksa penuntut umum; atau
  • pihak ketiga yang berkepentingan.

Siapa saja yang dapat mem-praperadilan-kan penghentian penuntutan? Yang dapat memintakannya adalah:

  • penyidik; atau
  • pihak ketiga yang berkepentingan.

Apakah tersangka bisa mem-praperadilan-kan penghentian penyidikan atau penuntutan? Ya, dengan meminta ganti kerugian dan/atau rehabilitasi selama perkara tidak diajukan ke PN. Tak hanya tersangka, pihak ketiga yang berkepentingan juga dapat memintakan ganti kerugian dan/atau rehabilitasi.

Bagaimana jika sebuah perkara sudah mulai diperiksa di PN, sementara pemeriksaan mengenai permintaan praperadilan belum selesai? Jika demikian, permintaan praperadilan tersebut menjadi gugur.

Apakah masih dapat diajukan permintaan praperadilan di tingkat penuntutan jika sudahputusan praperadilan di tingkat penyidikan? Ya, masih dapat diajukan lagi, asalkan dengan permintaan praperadilan yang baru.

Apakah penggeledahan yang tidak sah juga dapat di-praperadilan-kan? Tentu saja dapat, misalnya penggeledahan dilakukan tanpa surat penggeledahan, penggeledahan kantor, dan lain-lain.

II. TAHAP AJUDIKASI

A. Surat Dakwaan

B. Eksepsi (Keberatan)

Eksepsi, menurut Luhut M.P. Pangaribuan, merupakan suatu hak dari terdakwa untuk menjawab surat dakwaan.  Sebelum mengajukan eksepsi, terdakwa harus sudah menerima Berita Acara Pemeriksaan (BAP) dari penyidik dan surat dakwaan.

Apa saja yang diminta dalam eksepsi? Biasanya yang diminta dalam eksepsi, yaitu:

  • pengadilan memiliki kewenangan untuk mengadili perkara;
  • dakwaan tidak dapat diterima; atau
  • surat dakwaan harus dibatalkan.

Apakah isi dari eksepsi? Ada tiga hal, yaitu:

  1. Eksepsi mengenai kompetensi relatif pengadilan;
  2. Eksepsi mengenai kewenangan absolut pengadilan; atau
  3. Eksepsi mengena tidak dapat diterimanya surat dakwaan

Apakah upaya hukum dari eksepsi? Apabila eksepsi ditolak, terdakwa atau advokatnya dapat mengajukan keberatan ke PT. Namun seandainya eksepsi diterima, JPU dapat mengajukan perlawanan kepada PT. Keberatan diajukan paling lambat tujuh hari setelah putusan hakim mengenai diterima/ditolaknya eksepsi tersebut.

Siapa saja yang boleh mengajukan eksepsi? Eksepsi hanya boleh diajukan oleh terdakwa atau advokatnya. Tidak boleh kedua-duanya.

C. Pleidoi

Tidak seperti Eksepsi, pleidoi dapat diajukan oleh terdakwa dan advokatnya secara bersama-sama.

By: Dr Farrukh Saleem
The writer is an Islamabad-based freelance columnist

Why are Jews so powerful?
There are only 14 million Jews in the world; seven million in the Americas , five million in Asia, two million in Europe and 100,000 in Africa . For every single Jew in the world there are 100 Muslims. Yet, Jews are more than a hundred times more powerful than all the Muslims put together. Ever wondered why?

Jesus of Nazareth was Jewish. Albert Einstein, the most influential scientist of all time and TIME magazine’s ‘Person of the Century’, was a Jew. Sigmund Freud — id, ego, and superego — the father of psychoanalysis was a Jew. So were Karl Marx, Paul Samuelson and Milton Friedman.

Here are a few other Jews whose intellectual output has enriched the whole humanity: Benjamin Rubin gave humanity the vaccinating needle. Jonas Salk developed the first polio vaccine. Alert Sabin developed the improved live polio vaccine. Gertrude Elion gave us a leukaemia fighting drug. Baruch Blumberg developed the vaccination for Hepatitis B. Paul Ehrlich discovered a treatment for syphilis (a sexually transmitted disease).. Elie Metchnikoff won a Nobel Prize in infectious diseases.

Bernard Katz won a Nobel Prize in neuromuscular transmission. Andrew Schally won a Nobel in endocrinology (disorders of the endocrine system; diabetes, hyperthyroidism) … Aaron Beck founded Cognitive Therapy (psychotherapy to treat mental disorders, depression and phobias). Gregory Pincus developed the first oral contraceptive pill. George Wald won a Nobel for furthering our understanding of the human eye. Stanley
Cohen won a Nobel in embryology (study of embryos and their development) . Willem Kolff came up with the kidney dialysis machine.

Over the past 105 years, 14 million Jews have won 15-dozen Nobel Prizes while only three Nobel Prizes have been won by 1.4 billion Muslims (other than Peace Prizes).

Why are Jews so powerful? Stanley Mezor invented the first micro-processing chip. Leo Szilard developed the first nuclear chain reactor. Peter Schultz, optical fibre cable; Charles Adler, traffic lights; Benno Strauss, Stainless steel; Isador Kisee, sound movies; Emile Berliner, telephone microphone and Charles Ginsburg, videotape recorder.

Famous financiers in the business world who belong to Jewish faith include Ralph Lauren (Polo), Levis Strauss (Levi’s Jeans), Howard Schultz (Starbuck’s) , Sergey Brin (Google), Michael Dell (Dell Computers), Larry Ellison (Oracle), Donna Karan (DKNY), Irv Robbins (Baskin & Robbins) and Bill Rosenberg (Dunkin Donuts).

Richard Levin, President of Yale University, is a Jew. So are Henry Kissinger (American secretary of state), Alan Greenspan (fed chairman under Reagan, Bush, Clinton and Bush), Joseph Lieberman, Madeleine Albright (American secretary of state), Maxim Litvinov (USSR foreign Minister), David Marshal (Singapore’s first chief minister), Isaac Isaacs (governor-general of Australia), Benjamin Disraeli (British statesman and author), Yevgeny Primakov (Russian PM), Jorge Sampaio (president of Portugal), Herb Gray (Canadian deputy PM), Pierre Mendes France (French PM), Michael Howard (British home secretary), Bruno Kreisky (chancellor of Austria) and Robert Rubin (former American secretary of treasury).

In the media, famous Jews include Wolf Blitzer (CNN), Barbara Walters (ABC News), Eugene Meyer (Washington Post), Henry Grunwald (editor-in-chief Time), Katherine Graham (publisher of The Washington Post), Joseph Lelyyeld (Executive editor, The New York Times), and Max Frankel (New York Times).

Can you name the most beneficent philanthropist in the history of the world? The name is George Soros, a Jew, who has so far donated a colossal $4 billion most of which has gone as aid to scientists and universities around the world. Second to George Soros is Walter Annenberg, another Jew, who has built a hundred libraries by donating an estimated $2 billion.

At the Olympics, Mark Spitz set a record of sorts by winning seven gold medals. Lenny Krayzelburg is a three- time Olympic gold medallist. Spitz, Krayzelburg and Boris Becker are all Jewish.

Did you know that Harrison Ford, George Burns, Tony Curtis, Charles Bronson, Sandra Bullock, Billy Crystal, Woody Allen, Paul Newman, Peter Sellers, Dustin Hoffman, Michael Douglas, Ben Kingsley, Kirk Douglas, William Shatner, Jerry Lewis and Peter Falk are all Jewish?

As a matter of fact, Hollywood itself was founded by a Jew. Among directors and producers, Steven Spielberg, Mel Brooks, Oliver Stone, Aaron Spelling (Beverly Hills 90210), Neil Simon (The Odd Couple), Andrew Vaina (Rambo 1/2/3), Michael Man (Starsky and Hutch), Milos Forman (One flew over the Cuckoo’s Nest), Douglas Fairbanks (The thief of Baghdad) and Ivan Reitman (Ghostbusters) are all Jewish.

To be certain, Washington is the capital that matters and in Washington the lobby that matters is The American Israel Public Affairs Committee, or AIPAC. Washington knows that if PM Ehud Olmert were to discover that the earth is flat, AIPAC will make the 109th Congress pass a resolution congratulating Olmert on his discovery.

William James Sidis, with an IQ of 250-300, is the brightest human who ever existed. Guess what faith did he belong to?

So, why are Jews so powerful?
Answer: Education.

Wh
y are Muslims so powerless?

There are an estimated 1,476,233,470 Muslims on the face of the planet: one billion in Asia, 400 million in Africa, 44 million in Europe and six million in the Americas . Every fifth human being is a Muslim; for every single Hindu there are two Muslims, for every Buddhist there are two Muslims and for every Jew there are one hundred Muslims.
Ever wondered why Muslims are so powerless?

Here is why: There are 57 member-countries of the Organisation of Islamic Conference (OIC), and all of them put together have around 500 universities; one university for every three million Muslims. The United States has 5,758 universities and India has 8,407. In 2004, Shanghai Jiao Tong University compiled an ‘Academic Ranking of World
Universities’ , and intriguingly, not one university from Muslim-majority states was in the top-500.

As per data collected by the UNDP, literacy in the Christian world stands at nearly 90 per cent and 15 Christian- majority states have a literacy rate of 100 per cent. A Muslim-majority state, as a sharp contrast, has an average literacy rate of around 40 per cent and there is no Muslim-majority state with a literacy rate of 100 per cent. Some 98 per cent of the ‘literates’ in the Christian world had completed primary school, while less than 50 per cent of the ‘literates’ in the Muslim world did the same. Around 40 per cent of the ‘literates’ in the Christian world attended university while no more than two per cent of the ‘literate s’ in the Muslim world did the same.

Muslim-majority countries have 230 scientists per one million Muslims. The US has 4,000 scientists per million and Japan has 5,000 per million. In the entire Arab world, the total number of full-time researchers is 35,000 and there are only 50 technicians per one million Arabs (in the Christian world there are up to 1,000 technicians per one million).
Furthermore, the Muslim world spends 0.2 per cent of its GDP on research and development, while the Christian world spends around five per cent of its GDP.

Conclusion: The Muslim world lacks the capacity to produce knowledge.

Daily newspapers per 1,000 people and number of book titles per million are two indicators of whether knowledge is being diffused in a society. In Pakistan , there are 23 daily newspapers per 1,000 Pakistanis while the same ratio in Singapore is 360. In the UK , the number of book titles per million stands at 2,000 while the same in Egypt is 20.

Conclusion: The Muslim world is failing to diffuse knowledge.

Exports of high technology products as a percentage of total exports are an important indicator of knowledge application. Pakistan ‘s exports of high technology products as a percentage of total exports stands at one per cent. The same for Saudi Arabia is 0.3 per cent; Kuwait , Morocco , and Algeria are all at 0.3 per cent while Singapore is at 58 per cent.

Conclusion: The Muslim world is failing to apply knowledge.

Why are Muslims powerless?
Because we aren’t producing knowledge.

Why are Muslims powerless?
Because we aren’t diffusing knowledge.

Why are Muslims powerless?
Because we aren’t applying knowledge.

And, the future belongs to knowledge-based societies.

Interestingly, the combined annual GDP of 57 OIC-countries is under $2 trillion.
America , just by herself, produces goods and services worth $12 trillion;
China $8 trillion, Japan $3.8 trillion and Germany $2.4 trillion (purchasing power parity basis).

Oil rich Saudi Arabia, UAE, Kuwait and Qatar collectively produce goods
and services (mostly oil) worth $500 billion;
Spain alone produces goods and services worth over $1 trillion,
Catholic Poland $489 billion and Buddhist Thailand $545 billion.
(Muslim GDP as a percentage of world GDP is fast declining).

So, why are Muslims so powerless?
Answer: Lack of education!
All we do is shout to Allah whole day and blame everyone else for our multiple failures..!.*****

EDUCATION IS THE KEY…..Pass this on to your children, whatever their denomination or race be.

(Albert Einstein talking to a group of school children. 1934.)

My dear children: I rejoice to see you before me today, happy youth of a sunny and fortunate land. Bear in mind that the wonderful things that you learn in your schools are the work of many generations, produced by enthusiastic effort and infinite labour in every country of the world. All this is put into your hands as your inheritance in order that you may receive it, honour it, and add to it, and one day faithfully hand it on to your children. Thus do we mortals achieve immortality in the permanent things which we create in common. If you always keep that in mind you will find meaning in life and work and acquire the right attitude towards other nations and ages.

KOMENTARKU:

Saya kira pertanyaan ini belum tuntas. Mengapa dunia muslim tertinggal pendidikannya? Jawabannya: FILSAFAT! Ya, karena dunia muslim pada umumnya menabukan filsafat, induknya ilmu pengetahuan. Lebih-lebih setelah aliran Wahhabi, yang secara teologis antirasionalisme ini, me-mainstream sebagai model Islam di dunia.

Riset-riset mutakhir barat saat ini tak terlepas dari jasa positivisme August Comte, yang memadukan filsafat rasionalisme cartesian dengan filsafat empirisme. Selain itu, pertanyaan-pertanyaan riset, 5w1h questions, merupakan salah satu bagian pertanyaan-pertanyaan mendasar dari filsafat logika. Belum lagi jika kita bicara soal cabang-cabang ilmu yang lain, seperti psikologi, sosiologi, ilmu politik, hukum dll, semua pasti beralaskan filsafat.

Jangankan itu, mari kita lihat dari kacamata geopolitik. Ideologi yang berkembang di dunia ini berakar kuat pada filsafat. Ideologi kapitalisme, misalnya, dipengaruhi oleh Filsafat Kebebasan Manusia ala John Locke. Sementara Komunisme diawali dari Filsafat Materialisme Dialektika.

Apakah sejarah peradaban Islam tidak pernah (mau) mengenal filsafat? Nay! Zaman keemasan Islam dulu tak terlepas dari peran filsafat dalam meletakkan basis keilmuwan. Sebut saja Ibu Sina (dokter, ahli kimia, geologis, ahli astronomi, dll), Al-Farabi (ahli matematika, musisi, sosiolog, dll) dan Al-Kindi (ahli matematika, psikologi, dokter, musisi) yang juga filsuf. Saking pentingnya filsafat, sampai-sampai Ibnu Thufail asal Andalusia menulis novel “Hayy ibn Yaqdzan, yang menekankan pentingnya akal untuk “mencari” Tuhan.

Tapi kita tak perlu berkecil hati soal ini. Di belahan Islam lain, ada sekelompok “minoritas kreatif” yang tradisi filsafatnya juga kuat. Ya, dialah Iran. Sebut saja di antaranya Mulla Shadra, Murtadha Muthahhari, Muhammad Baqr ash-Shadr, bahkan sang revolusionis Ayatullah Khomeini (bahkan termasuk Ibnu Sina!). Karena filsafatnya kuat, maka tradisi keilmuannya pun juga maju. Dengan demikian, tak heran jika pendidikan di Iran juga mulai berkembang pesat.

Kuatnya tradisi keilmuan dan berkualitas karya-karya di sana, sampai-sampai membuat barat dan orientalis tertarik untuk mempelajarinya. Sepasang suami istri William Chittick dan Sachiko Murata, misalnya, termasuk di antaranya yang tertarik mempelajari filsafat di Negeri Mullah ini.

Soal fasilitas pendidikan bagaimana? Di Iran, anak-anak yang berasal dari keluarga tak mampu diberikan fasilitas pendidikan, antara lain bebas biaya SPP dan printil-printil lainnya serta diberikan buku-buku gratis. Walhasil, anak-anak yang berasal dari keluarga menengah ke bawah justru yang rata-rata berprestasi.

Bagaimana dengan tradisi pengajaran di sana? Mari kita tengok ke salah satu “pesantren tradisional” bernama Hauzah ‘Ilmiyyah al-Moqaddesah di kota Qom. “Yang paling berkesan belajar di Iran adalah perilaku ulama-ulama yang ada di Qom, yang begitu baik menghargai pelajar-pelajar. Tidak merasa lebih tinggi atau pintar. Mereka benar-benar memahami Islam dengan baik dari perilakunya,” kata Musa Kadzim Siraj, alumnus Hauzah asal Madura ini.

Bagaimana soal infrastrukturnya? Di ibukota Iran, Tehran, ada perpustakaan dengan koleksi buku terbanyak di dunia, yaitu berjumlah lebih dari 9 juta buku. Saking berharganya ilmu pengetahuan bagi mereka, sampai-sampai rak-rak bukunya bisa masuk ke dalam bunker secara otomatis jika terjadi sesuatu. Ya, belajar dari zaman kemunduran Islam dulu, ketika karya-karya besar ilmuwan muslim dibakar. Lagi, beberapa hari yang lalu, Iran juga mengirimkan Satelit Omid, serta sesumbar akan mengirimkan astronot pada 2021.

Kemajuan pendidikan tak terlepas dari tradisi keilmuan yang baik. Sementara tradisi keilmuan yang baik sangat bergantung pada filsafat. Jadi, kenapa kita tidak mulai berfilsafat?***

Rabbi Moishe Arye Friedman dan Ahmadinejadi

Rabbi Moishe Arye Friedman dan Ahmadinejadi

Pemimpin Komunitas Yahudi Ortodoks Austria, Rabbi Moishe Arye Friedman, yakin bahwa, “Rezim Zionis mengeksploitasi konsep Holocaust sebagai alat dan senjata untuk membungkam orang.” Dalam wawancara dengan Mehr News Agency pada Sabtu (6/10), Friedman mengatakan, “Akar problem dari dunia ini adalah eksistensi rezim Zionis.” Ia berada di Iran saat itu untuk memenuhi undangan pemerintah Republik Islam. Berikut ini adalah kutipan wawancara Rabbi Friedman dengan Mehr News.

Pertanyaan: Tidakkah menurut Anda perilaku Israel di Timur Tengah, khususnya terhadap Muslim di wilayah-wilayah pendudukan, menghadirkan ancaman bagi komunitas Yahudi di negara-negara lain?

Jawaban: Ketika kita berbicara mengenai Israel, maka bencana yang dihadirkan Zionis tidak terbatas hanya di negara mereka. Ini adalah sebuah rezim. Rezim Zionis tidak terkonsentrasi di dalam apa yang disebut Israel saja. Rezim Zionis secara aktual ada di banyak wilayah dari dunia ini. Untuk menuju Yerusalam—tentu saja maksud kami adalah secara fisik berada di Yerusalem—maka kita harus mengeliminasi rezim Zionis. Rezim Zionis meliputi berbagai pemerintahan di seluruh dunia plus komunitas-komunitas Yahudi Zionis. Ketika mengatakan ‘orang Yahudi’, maka kami merujuk kepada orang-orang Yahudi yang mengikuti Musa as, yang kami miliki di seluruh dunia. Tentu saja adalah penting untuk membedakan antara orang Yahudi dengan mereka yang termasuk orang Zionis. Pandangan dan perlakuan beberapa negara sangatlah tidak bertanggung jawab. Bagi mereka, tidak ada perbedaan antara Yahudi dan Zionis, dan pandangan ini berisiko besar. Hal ini tidak terjadi di Republik Islam Iran, yang bisa mengenali akar dari permasalahan dengan berupaya mencari tahu bagaimana mungkin rezim seperti Zionis ini bisa eksis. Sebagai contoh, orang-orang Iran kini melibatkan diri dalam isu-isu Holocaust, untuk membebaskan dunia dari konsep propaganda Holocaust yang digunakan sebagai alat untuk melegalkan kejahatan atas kemanusiaan. Ada banyak hal yang telah dilakukan Republik Islam Iran, dan khususnya pada masa-masa kini. Menurut saya, ini adalah cara yang bertanggung jawab. Sayangnya, kita harus mengecam rezim-rezim Arab yang menoleransi Israel. Tampaknya mereka tidak berada pada jalan yang bisa dipertanggungjawabkan, dan bahkan berupaya menyesatkan publik bahwa Zionisme secara aktual merepresentasikan orang Yahudi demi melindungi kepentingan dan mempertahankan kekuasaan mereka.

Bagaimana mengenai penyelewangan Zionisme terhadap Yudaisme?

Zionisme adalah segala hal mengenai penghinaan terhadap keyakinan akan Tuhan. Bukan hanya terhadap agama orang Yahudi tetapi terhadap keyakinan kepada Tuhan di dalam seluruh agama, terutama Islam. Mereka juga memiliki kepentingan besar untuk menyimpangkan umat Kristen, gereja Katolik, dari agama tradisional mereka. Mereka mencerabut akar dari agama-agama, berupaya mereduksi elemen-elemen historis, dan pada saat yang sama—ketika ada orang-orang yang secara independen melakukan riset dan mengkritik perilaku mereka—mereka akan melakukan segala hal untuk membendung orang-orang itu, membunuh karakter mereka, dan menyingkirkan mereka. Itu adalah tabiat kaum Zionis. Demi tujuan itu, mereka selalu menggunakan konsep Holocaust sebagai alat dan senjata mereka untuk membungkam orang-orang yang kritis terhadap mereka. Yerusalem sudah seharusnya dibersihkan dari rezim Zionis.

Apa yang anda dan komunitas anda lakukan untuk menghadapi Israel atau Zionisme?

Menurut saya, kedatangan saya dan keluarga ke Tehran dalam terminologi praktisnya telah menyatakan sebuah contoh dari aktivitas yang kami lakukan dalam melawan Zionisme, yakni mengecam kejahatan-kejahatan yang mereka lakukan terhadap kemanusiaan. Namun, kita harus menghadapi problem ini dengan menuju langsung ke inti permasalahannya. Akar persoalan ini adalah dunia kini dihadapkan pada isu Holocaust yang didasarkan atas kebohongan. Kita harus mengatasi kebohongan-kebohongan Holocaust dari rezim Zionis, tidak ada keraguan mengenai hal ini. Semua media kini diam mengenai semua kejahatan yang dilakukan rezim Zionis dengan mengeksploitasi konsep Holocaust.

Apa pandangan anda mengenai pernyataan Presiden Ahmadinejad bahwa Barat harus mengalokasikan sebuah tanah kepada kaum Zionis sehingga mereka dapat membangun sebuah negara di sana?

Hal pertama yang harus terjadi adalah kembalinya seluruh pengungsi Palestina kepada tanah air mereka sendiri dengan segera dan tanpa syarat. Ketika mengatakan tanpa syarat, saya bermaksud tanpa prasyarat harus mengakui rezim Zionis. Bangsa Palestina harus mendapatkan hak-hak mereka tanpa harus mengakui rezim Zionis. Dengan mengakui rezim Zionis, sebenarnya kita telah melakukan hal yang kontradiktif dengan hak-hak Palestina dan hak-hak dunia Islam. Yang harus kita persoalkan bukanlah orang yang memang berasal dari Palestina tetapi mereka yang justru datang dari Polandia, Rusia, dan tempat-tempat lainnya. Dengan mengeksplotasi konsep Holocaust mereka datang ke tanah suci ini untuk menyingkirkan orang-orang lain. Langkah pertamanya, mereka harus kembali ke tempat mereka berasal. Saya benar-benar tidak memahami logika dan posisi orang-orang Eropa dan Amerika yang menentang pendekatan dan inisiatif Presiden Ahmadinejad, yang menyarankan agar Zionis kembali ke Eropa atau Amerika karena bagaimanapun orang-orang Eropa kini mengorbankan ekonomi mereka bagi orang-orang Yahudi yang menjadi kolega orang-orang Israel yang ada di Palestina. Mereka (Eropa) bahkan terkadang mengorbankan keamanan nasional mereka sendiri. Mereka tidak hendak mengimplementasikan hukum dan ketertiban terhadap orang-orang Yahudi di negara-negara mereka sendiri.

Jadi apa persoalannya jika orang-orang Yahudi harus kembali ke sana?

Tidak ada masalah mengenai hal itu. Sebagai hasil dari Perang Dunia Kedua, melalui cara yang sangat tidak adil, setidaknya sepertiga wilayah Polandia dan 34 persen wilayah Republik Ceko, sebagai contoh, kini menjadi wilayah Jerman yang mereka rampas secara tidak adil, dan mereka tidak melakukan apa pun mengenai hal itu. Jadi, tidak ada persoalan untuk memberikan beberapa wilayah kepada orang-orang Yahudi Zionis di sana (Eropa).

Apa pandangan anda mengenai pidato Ahmadinejad di Universitas Colombia tentang Holocaust?

Persoalan yang Presiden Ahmadinejad nyatakan dan persoalan-persoalan yang pemimpin-pemimpin Iran, Imam Khomeini dan Ayatullah Khamenei, sebutkan adalah isu-isu yang sudah diketahui sebelumnya. Namun, kita hidup di dunia yang dibungkam oleh dominasi media Zionis yang luar biasa mengerikan. Pada kenyataannya, Presiden Ahmadinejad hendak menghancurkan tabu-tabu itu. Dan dia telah menunaikan misi itu di sana (New York—red). Kini dunia mulai menyadari bahwa ternyata rezim Zionis tidak terkonsentrasi di tanah suci (Yerusalem—red). Akar problem ini sebenarnya adalah rezim Zionis di mana pun. Komunitas Yahudi Zionis sangatlah agresif. Mereka bahkan tak sungkan meracuni masyarakat Amerika. Rezim Zionis mengarahkan mereka. Mereka bahkan bisa mempunyai perangkat kepolisian sendiri di New York. Ribuan Yahudi di New York bisa membentuk kesatuan polisi mereka sendiri.

Apa pandangan anda mengenai Iran, dan mengenai propaganda AS yang menyebut Iran sebagai negara teroris?

Menurut saya, ini hal yang paling baik. Kalian harus bangga bahwa media-media Zionis, di Amerika Serikat, menyerang kalian. Semakin gencar mereka menyerang kalian, maka itu berarti karena kalian berada pada posisi yang paling baik. Jangan pernah takut kepada orang yang berbicara menyerang kalian tetapi takutlah kepada mereka yang berbicara manis kepada kalian. Tak seorang pun di dunia ini yang pernah membayangkan bahwa Republik Islam (Iran—red) mampu mencapai posisi seperti itu. Masyarakat Iran terlalu cerdas untuk jatuh ke dalam propaganda semacam itu. Dan menurut saya, rakyat Iran cukup cerdas untuk menyadari bahwa propaganda itu adalah alasan pasti untuk berdiri kokoh dan untuk tidak mengharapkan sambutan hangat dari para iblis. Bagi saya, Republik Islam adalah bangsa yang dipilih Tuhan untuk keadilan dan perdamaian.[irm/mehr news agency]

Sumber: http://www.icc-jakarta.com/content/view/749/55/

Senarai Hikmah 1

(1) Akhlak

“Kebahagiaan itu ada pada tiga hal, yaitu kesetiaan, menegakkan hak, dan bangkit lagi setelah musibah” (Imam Ja’far Ash-Shadiq – Kitab Biharul Anwar 78:237)

“Yang paling buruk ialah kemaksiatan manula, kekasaran penguasa, kebohongan bangsawan, kekikiran orang kaya, dan kesombongan orang yang berilmu” (Imam Hussein a.s. – Kitab Biharul Anwar 36:384)

“Kezaliman terburuk adalah menzalimi orang-orang yang lemah (Imam Ali bin Abi Thalib a.s. – Kitab Al-Bihar: 77)

“Pedagang menanti rezeki dan penimbun menanti laknat” [At-taajir yantazhirur rizqa wal muhtakir yantazhirul la’nah] (Nabi Muhammad SAAW – Kitab Wahjul Fashahah: 1130)

“Allah menambah rezeki orang yang mengangkat wibawa orang yang memaafkan, dan menaikkan derajat orang yang merendahkan hatinya” (Nabi Muhammad SAAW – Kitab Wahjul Fashahah: 2726)

“Yang paling baik di antara kamu adalah yang paling baik akhlaknya, yang mengasihi orang dan dikasihi orang” (Nabi Muhammad SAAW – Kitab Biharul Anwar 77:149)

“Terlaknatlah orang yang melemparkan tanggung jawabnya kepada orang lain” [Mal’uunun man alqaa kallahu ‘alan naas] (Nabi Muhammad SAAW – Kitab Nahjul Fashahah: 433)

(2) Refleksi Diri

“Siapa yang mohon ampun dengan lidahnya, tetapi hatinya tidak menyesal, ia telah mencemoohkan dirinya. Siapa yang mohon petunjuk, tetapi tidak berusaha mencarinya, ia telah mencemoohkan dirinya” (Kitab Al-Bihar: 78)

“Belum bersih hatimu sebelum engkau cintai orang yang beriman seperti engkau cintai dirimu sendiri” [Laa yaslam laka qalbuka hatta tuhibbal mu’miniin maa tuhibbu linafsika] (Imam Ali bin Abi Thalib a.s. – Kitab Biharul Anwar 78:8)

“Sekiranya kalian tahu besarnya kasih sayang Tuhan, pastilah kalian akan bersandar kepada-Nya” [Law ta’lamuuna qadra rahmatillah lattakaltum ‘alayha] (Nabi Muhammad SAAW – Kitab Nahjul Fashahah)

“Tidak akan lurus iman hamba sampai lurus hatinya. Tidak akan lurus hatinya, sampai lurus lidahnya” (Nabi Muhammad SAAW – Nahjul Fashahah: 330)